Saatnya Kita Berbenah Diri

Runtuhnya jembatan kukar menjadi tamparan bagi kita untuk yang kesekian kali. Ketika terjadi musibah kita hanya merasa sedih mengecam siapa saja yang bisa disalahkan, mulai dari pemerintah dan siapa saja yang terlibat. Kita menjadi kecewa kepada mereka yang makan dan hidup dari uang rakyat tetapi tidak bisa mengurus kebutuhan rakyat.

Derita TKI hanya menjadi tontonan telenovela yang setiap kali melihatnya membuat kita beresdih, pilu dan kembali menyalahkan siapa saja yang bisa disalahkan. Dan kita kembali menjadi kecewa kepada mereka yang makan dan hidup dari uang rakyat tetapi tidak bisa mengurus rakyat.

Kisruh PSSI menjadi hiburan bagi kita dimana mereka saling serang dan saling jegal, menghancurkan persepakbolaan kita. Kita hanya menjadi suporter yang hanya bisa menyalahkan siapa saja yang bisa disalahkan. Dan sekali lagi kita kecewa kepada mereka yang makan dan hidup dari uang rakyat tetapi tidak bisa mengurus rakyat.

Tertangkapnya Nazaruddin menjadi salah satu cerpen yang selalu kita lihat tentang korupsi, cerpen tiada akhir dari sebuah kekuasaan yang tamak akan dunia. Dan kembali lagi kita kecewa kepada mereka yang makan dan hidup dari uang rakyat tetapi tidak bisa mengurus rakyat.

Musibah, ketidak adilan, permusuhan dan persaingan demi kekuasaan, korupsi dan sebagainya menjadi bagian dari hidup kita. Percuma saling menyalahkan itu tidak ada artinya, mereka tidak akan berubah jika kita tidak mau berubah, jika kita ingin mereka berubah maka tidak ada pilihan lain selain kita merubah diri kita sendiri. Sebuah perubahan yang harus dilakukan setiap individu, perubahan kecil yang akan berdampak besar bagi Negara ini, kita harus bisa menjadi bagian dari kemajuan Negara ini, tidak ada yang bisa merubahnya kecuali kita sendir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar