Petani dan Keadilan Tuhan

“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.” (HR. Imam Muslim)

Melihat ibu dan ayah selalu bertani walaupun hasil yang didapat tidak sesuai dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan. Menurut saya itu sia-sia setidaknya itu yang muncul dalam pikiran saya sebelumnya, tetapi ternyata ada kebaikan yang tidak bisa dicerna oleh akal pikiran.

Bertani memang bukan hal untung rugi dalam materi, bertani adalah bentuk kesukuran kita kepada Tuhan. Dengan bertani seseorang bisa lebih memahami arti sebiji padi atau setetes air tanpa itu semua manusia tidak akan bisa bertahan.

Ayah dan ibu tidak pernah berhenti bertani, jagung yang dihargai 1000 rupiah sekilonya bukan hal yang harus diratapi tetapi bisa memasak jagung hasil sendiri dan bisa membaginya pada tetangga dan keluarga adalah hal yang harus disukuri.

Menjadi petani bukan pilihan atau tuntutan tetapi menjadi petani adalah anugrah yang diberikan oleh Tuhan. Setidaknya dengan menjadi petani kita bisa menjadi orang yang menghargai hidup dan manusia tidak bisa hidup tanpa ada petani.

Sayang petani menjadi terpinggirkan dari dunia modern, seakan-akan tidak ada tempat untuk petani. Tanah-tanah mereka berubah menjadi gedung mewah, sawah-sawah mereka menjadi sarana golf dan sebagainya. Petani hanya bisa mengelus dada ketika tidak ada lagi tanah untuk ditanami dan tidak ada lagi air yang mengalir untuk menyirami ladang.

Walau begitu kehidupan modern masih membutuhkan petani, tidak ada pengetahuan yang bisa mengganti peran petani sebagai titik utama dalam kehidupan. Secanggih dan semaju apapaun dunia saat ini petani masih menjadi penopang kehidupan, walaupun tanah mereka sudah tidak bisa ditanami lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar