Cita, Harapan dan Rakusnya Kita

Hmmmm lagi nghayal bagaimana ya keadaan bumi kita 10-20 tahun kedepannya, apakah lebih baik dari saat ini atau justru lebih buruk. Mudah-mudahan sih lebih baik lagi. Tapi tentu saja itu tergantung dari apa yang kita lakukan sekarang tentunya.

Pemanasan global, ekploitasi sumberdaya alam secara berlebihan, hutan yang gundul, laut yang tak ada lagi ikannya, sungai yang mengering, serta terlalu banyak hal indah yang hilang dan itu semua terjadi oleh sifat buruk kita. Ya kita manusia yang seharusnya menjaga bumi tetapi justru menghancurkannya.

Demi cita kita melakukan apa saja, menggunduli hutan yang memberi udara buat kita, menggali sampai jantung bumi tempat kita bersandar,meracuni lautan yang memberi kita air, dan sebagai balasannya kita menanam biji atas nama sosial tanpa peduli apakah biji itu tumbuh atau mengering karena tanah yang gersang.

Merawat bumi untuk dinikmati anak cucu kita hanya harapan, harapan kosong menurut saya selama perusahaaan-perusahaan itu tetap menggunduli hutan, menghancurkan gunung dan meracuni lautan kita. Kita menghidupkan mesin berkekuatan besar untuk menghancurkan bumi, setelah itu berpura-pura khawatir akan kehancuran bumi yang ada didepan kita.

Kita memang rakus walau kita sadar bumi kita sedang terancam oleh kita sendiri yang justru itu mengancam balik kita. Bayangin aja kita kerja hampir seluruh waktu diperusahaan yang menghancurkan bumi kita dari segala arah. Dan mengisi sedikit waktu lenggang untuk menyelamatkannya. Lalu apakah itu bisa menyelamatkannya.

Biar bagaiman kita manusia, berbeda dengan mahluk lainnya ketika yang lain bergerak dengan instingnya untuk menjaga bumi, kita bisa lebih baik dari mereka karena kita berpikir mana yang baik dan terbaik untuk dilakukan. Sayangnya terkadang nafsu menguasai kita sehingga kita melakukan apa yang harus dilakukan bukan apa yang kita harapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar